
Inilahdata.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan raksasa aluminium asal Rusia, United Company Rusal (UC Rusal), akan membangun pabrik hilirisasi bauksit menjadi alumina di kawasan Kalimantan.
Proses perizinan proyek ini disebutnya sudah berada di tahap hampir final.
“Untuk urusan perizinannya sudah tahap hampir final,” kata Bahlil saat ditemui wartawan di kantornya, Jumat (12/9/2026).
Ia menjelaskan bahwa proyek ini tidak akan digarap Rusal sendirian, melainkan lewat skema kolaborasi dengan pengusaha dalam negeri.
Meski begitu, Bahlil belum bersedia membeberkan identitas mitra lokal maupun nilai investasi yang akan digelontorkan, karena studi kelayakan atau feasibility study (FS) proyek tersebut masih dalam proses penyelesaian.
“Nanti tunggu studi kelayakannya (FS) diselesaikan dahulu,” ujarnya, mengisyaratkan bahwa besaran investasi baru bisa diumumkan setelah tahapan kajian itu rampung.
Rencana investasi Rusal ini pertama kali diungkap Presiden Prabowo Subianto dalam forum Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).
Dalam forum yang mempertemukan sejumlah kepala negara, pejabat, dan pelaku usaha itu, Prabowo hadir sebagai tamu kehormatan utama sekaligus menegaskan Indonesia membuka peluang luas bagi kerja sama ekonomi dengan Rusia, tidak hanya di sektor perdagangan, tetapi juga investasi, produksi bersama, hingga pembangunan industri di dalam negeri.
“Rusal akan masuk ke Indonesia dalam skala besar untuk mengembangkan kilang bersama kelompok-kelompok Indonesia,” ucap Prabowo dalam forum tersebut, sebagaimana dikutip ANTARA.
Ia menambahkan Indonesia masih menantikan lebih banyak lagi kerja sama dengan Rusia di berbagai bidang.
Selain proyek hilirisasi bauksit, di ajang yang sama juga diteken nota kesepahaman (MoU) antara perusahaan pupuk Indonesia dan salah satu kelompok usaha besar Rusia untuk investasi bersama proyek produksi pupuk berbahan baku gas di wilayah Timur Jauh Rusia.
Bukan Rencana Baru
Kabar masuknya Rusal ke sektor pengelolaan aluminium Indonesia sejatinya bukan cerita baru.
Rencana serupa pernah mengemuka lebih dari satu dekade lalu, tepatnya sekitar 2014, saat perusahaan aluminium terbesar di dunia asal Rusia itu mulai menjajaki calon mitra lokal untuk mendirikan pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina.
Kala itu, Rusal meminta tenggat waktu tiga bulan guna menuntaskan pencarian mitra.
Menteri Perindustrian saat itu, MS Hidayat, menjelaskan jangka waktu tiga bulan tersebut akan dipakai Rusal untuk mengkaji potensi sumber-sumber bauksit dari daftar calon mitra lokal.
“Setelah tiga bulan baru Rusal memastikan angka investasinya, dalam (pengolahan) alumina,” ujar Hidayat, dikutip dari ANTARA, seraya menyebut kepastian investasi baru akan muncul setelah Rusal merasa “secure” dengan sumber-sumber bauksit yang tersedia.
Bahkan sebelum penjajakan 2014 itu, Rusal juga sempat menjalin nota kesepahaman dengan salah satu perusahaan di Indonesia, namun tidak ada tindak lanjut konkret dari kesepakatan tersebut.
“Tadi juga mereka minta maaf, (belum ada kelanjutan) itu karena ada masalah global,” kata Hidayat kala itu, merujuk pada situasi ekonomi global yang menghambat realisasi proyek.
Kini, lebih dari satu dekade setelah penjajakan awal itu kandas, rencana investasi Rusal kembali bergulir sebagai bagian dari momentum penguatan hubungan ekonomi Indonesia-Rusia pasca-kunjungan kenegaraan Prabowo.
Bauksit sendiri tercatat sebagai salah satu komoditas mineral utama yang menopang realisasi investasi hilirisasi sepanjang semester I 2026, sehingga masuknya pemain sekelas Rusal berpotensi turut mendongkrak nilai tambah industri hilir mineral nasional. (**)
Halaman : 1 2