
Inilahdata.com – Bank Dunia mencatat sejumlah mata uang di Asia Tenggara terdepresiasi cukup tajam sepanjang 2026. Rupiah termasuk yang paling tertekan.
Dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2026, lembaga itu menyebut rupiah Indonesia, peso Filipina, dan baht Thailand sebagai tiga pasar mata uang yang paling dalam dan aktif diperdagangkan secara internasional di kawasan.
Ketiganya sama-sama melemah sedikitnya 5% sejak Februari 2026.
Angka itu tergolong dalam jika dibandingkan dengan 18 mata uang negara berkembang (EMDE) lain, yang rata-rata depresiasinya sekitar 2%.
Kedelapan belas negara tersebut menerapkan nilai tukar mengambang dan masuk dalam indeks saham pasar berkembang MSCI.
Bank Dunia menilai kawasan Asia Timur dan Pasifik masih sangat bergantung pada impor energi.
“Kenaikan harga minyak setelah konflik di Timur Tengah telah meningkatkan tekanan terhadap perekonomian negara-negara di kawasan,” tulis Bank Dunia.
Menurut lembaga itu, volume impor minyak di seluruh kawasan memang sudah berkurang. Namun, nilai tagihan impornya naik tajam sejak konflik pecah.
Di pasar, sebagaimana data Bloomberg pada pukul 16.42 menunjukkan rupiah berada di Rp17.898 per dolar AS. Posisi itu berarti pelemahan 6,75% sejak awal tahun (year-to-date). (**)
Halaman : 1 2