
Inilahdata.com – Hasil terbaru asesmen internasional PISA 2025 memperlihatkan jarak yang masih lebar antarnegara ASEAN dalam kualitas pendidikan siswa usia 15 tahun.
Dari delapan negara ASEAN yang ambil bagian, tanpa Laos, Myanmar, dan Timor Leste, Singapura kembali memuncaki klasemen kawasan sekaligus menembus peringkat dua dunia.
Indonesia, di sisi lain, harus puas berada di urutan keenam dari delapan negara tersebut.
Apa Itu PISA?
Programme for International Student Assessment (PISA) adalah asesmen berkala yang digelar Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mengukur kemampuan siswa berusia sekitar 15 tahun dalam tiga bidang inti: membaca, matematika, dan sains.
Pada edisi 2025, OECD menambahkan satu komponen baru bernama computational problem solving (CPS), kemampuan siswa memecahkan persoalan lewat perangkat dan praktik komputasional, mulai dari pemodelan dan pemrograman hingga eksperimen serta analisis data.
Singkatnya, PISA berupaya melihat sejauh mana pengetahuan yang dipelajari siswa di sekolah benar-benar bisa mereka terapkan pada persoalan kehidupan nyata.
OECD mengurutkan peringkat berdasarkan skor sains dari yang tertinggi ke terendah. Berikut potretnya, negara demi negara.
Singapura
Sains 560, Matematika 563, Membaca 535, CPS 563.
Singapura tetap terdepan di ASEAN sekaligus nomor dua dunia, kalah tipis dari China. Meski begitu, skor matematika dan membaca negara ini justru turun dibanding 2022, sementara sains relatif bertahan.
Dalam tren jangka panjang, capaian sains membaik, sedangkan matematika dan membaca cenderung mendatar setelah sempat melorot beberapa tahun terakhir.
Kesenjangan antara siswa berprestasi tinggi dan rendah pun melebar di tiga bidang sekaligus pada periode 2022-2025.
Persoalan lain yang mengemuka: kekurangan guru, 37 persen siswa dilaporkan kepala sekolah mengalami hambatan belajar akibat minimnya sumber daya pengajar.
Sebanyak 6.551 siswa dari 157 sekolah mengikuti tes ini, mewakili sekitar 42.500 remaja usia 15 tahun atau 95 persen populasi seusia mereka.
Vietnam
Sains 457, Matematika 443, Membaca 392, CPS 461.
Skor Vietnam menurun dibanding 2022, tapi OECD enggan membandingkannya secara langsung lantaran negara ini baru pertama kali beralih dari tes berbasis kertas ke komputer.
Temuan yang mencolok, 59 persen siswa Vietnam belum mencapai level dasar membaca, kemungkinan besar dipengaruhi perubahan metode ujian, demikian penjelasan resmi pemerintah setempat.
Di sisi lain, kepedulian lingkungan siswa Vietnam menonjol: 93 persen mengaku tertarik berkontribusi menjaga lingkungan lewat pekerjaan mereka kelak, jauh di atas rata-rata OECD yang hanya 62 persen.
Partisipan tes ini 7.368 siswa dari 195 sekolah, mewakili sekitar 1,1 juta remaja usia 15 tahun atau 71 persen populasi seusianya.
Brunei Darussalam
Sains 439, Matematika 435, Membaca 426, CPS 496.
Brunei mencatat penurunan matematika dibanding 2022, sedangkan sains dan membaca relatif stagnan.
Namun dibandingkan 2018, sains dan membaca Brunei justru melonjak signifikan, capaian langka yang hanya dialami segelintir negara peserta PISA.
Kesenjangan skor antarsiswa tak banyak berubah di matematika dan sains pada periode terbaru, tapi menyempit di membaca.
Sebanyak 5.731 siswa dari 55 sekolah berpartisipasi, mewakili hampir seluruh (99 persen) populasi remaja 15 tahun di Brunei yang berjumlah sekitar 5.900 orang.
Thailand
Sains 432, Matematika 407, Membaca 392, CPS 476.
Ketiga skor Thailand kompak naik dibanding 2022, membalikkan sebagian tren penurunan sebelumnya.
Meski begitu, hasil sains dan membaca masih di bawah capaian 2015, dan sains juga masih kalah dari raihan 2018.
Kesenjangan antara siswa berprestasi tinggi dan rendah relatif tak berubah di tiga bidang selama 2022-2025.
Sebanyak 8.547 siswa dari 273 sekolah ambil bagian, mewakili sekitar 542.700 remaja usia 15 tahun atau 69 persen populasi seusianya.
Malaysia
Sains 419, Matematika 397, Membaca 393, CPS 484.
Skor matematika Malaysia anjlok 11 poin dibanding 2022, penurunan paling tajam di antara negara ASEAN lain.
Sebanyak 7.624 siswa dari 157 sekolah berpartisipasi, mewakili 413.400 remaja usia 15 tahun atau 85 persen populasinya.
Ada temuan menarik soal penggunaan teknologi: 56 persen siswa Malaysia memakai AI untuk belajar setidaknya sekali sepekan, kebanyakan untuk merangkum teks, membuat draf tugas menulis, dan riset awal.
Sementara itu, keterlibatan orang tua justru menurun; partisipasi mendiskusikan masalah sekolah anak turun dari 46 persen pada 2022 menjadi hanya 34 persen pada 2025.
Indonesia
Sains 389, Matematika 364, Membaca 365, CPS 427.
Indonesia menempati posisi keenam dari delapan negara ASEAN.
Dibanding 2022, skor matematika turun tipis 2 poin, sementara membaca naik 7 poin dan sains naik 6 poin.
Kendati membaik di dua bidang, capaian 2025 secara keseluruhan masih di bawah hasil 2015, dan sejak 2018 rata-rata skor Indonesia konsisten kalah dari Malaysia maupun Thailand.
Namun ada kabar baik dari sisi pemerataan: kesenjangan Indonesia dengan Thailand memang melebar 14 poin di sains, tapi kesenjangan dengan Malaysia justru menyempit tajam pada periode yang sama, di matematika hampir separuh (dari 62 ke 34 poin), di membaca dari 44 ke 28 poin, dan di sains dari 42 ke 32 poin.
Tren ini menunjukkan Indonesia sebenarnya bergerak lebih positif dibanding Malaysia di tiga bidang tersebut, meski dari skor absolut masih tertinggal.
Kesenjangan antara siswa berprestasi tinggi dan rendah di Indonesia tak banyak berubah untuk matematika dan sains, tapi menurun untuk membaca.
Sebanyak 14.168 siswa dari 419 sekolah mengikuti tes, mewakili sekitar 3,99 juta remaja usia 15 tahun atau 90 persen populasi seusia mereka.
Kamboja
Sains 382, Matematika 366, Membaca 347, CPS tidak tersedia.
Ketiga skor Kamboja naik dibanding 2022. Yang menarik, meski jumlah penduduk usia 15 tahun di Kamboja menurun, angka partisipasi siswa yang ikut tes justru meningkat, sinyal bahwa akses pendidikan menengah di negara ini membaik.
Sebanyak 5.464 siswa dari 186 sekolah berpartisipasi, mewakili sekitar 136.800 remaja usia 15 tahun atau 43 persen dari total populasi seusianya.
Filipina
Sains 373, Matematika 371, Membaca 367, CPS 434.
Filipina jadi negara ASEAN dengan skor paling rendah, tapi trennya justru positif: ketiga skornya naik dibanding 2018 maupun 2022.
Kesenjangan skor tak banyak berubah di matematika dan membaca, tapi melebar di sains. Dibanding 2018, proporsi siswa berkemampuan rendah (di bawah level kecakapan dasar) turun 11 poin persentase di membaca dan 10 poin di sains, meski di matematika relatif stagnan.
Sebanyak 8.072 siswa dari 208 sekolah berpartisipasi, mewakili sekitar 1,75 juta remaja usia 15 tahun atau 82 persen populasi seusianya.
Dari delapan potret ini, ASEAN menyisakan gambaran yang timpang: Singapura melaju di papan atas dunia, sementara mayoritas negara lain, termasuk Indonesia, masih berkutat mengejar ketertinggalan, meski beberapa di antaranya mulai menunjukkan tren pemerataan yang membaik. (**)
Halaman : 1 2