
Inilahdata.com – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan, angka kemiskinan di ibu kota kini turun hingga di bawah empat persen untuk pertama kalinya. Per Maret 2026, tingkat kemiskinan Jakarta tercatat 3,96 persen.
“Angka kemiskinan kita sekarang ini pertama kali di bawah empat persen,” kata Pramono saat memberikan kuliah umum di Universitas Ciputra, Jakarta Barat, Kamis (15/10/2026).
Dalam paparannya, Pramono menyampaikan sejumlah capaian ekonomi Jakarta, dari kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, hingga inflasi. Ekonomi Jakarta, menurut dia, tumbuh 5,52 persen.
Inflasi di ibu kota juga dinilai terkendali, yakni 2,7 persen dan lebih rendah dibanding daerah lain di Pulau Jawa dan Bali. Pramono menilai capaian itu patut disyukuri di tengah tekanan ekonomi dunia.
“Maka kenapa di daerah lain dalam kondisi ekonomi dunia yang sedang mengalami tekanan yang kuat seperti ini, alhamdulillah Jakarta masih bisa berjalan dengan baik. Tumbuh 5,52 persen, memberikan kontribusi kepada GDP 16,32 persen, inflasinya antara 2,5 sampai 2,7 persen, terendah di Jawa-Bali,” tuturnya.
Meski begitu, Pramono mengakui Jakarta masih bergulat dengan ketimpangan ekonomi. Gini ratio Jakarta berada di angka 0,435.
Gini ratio adalah indikator untuk mengukur ketimpangan pendapatan dalam masyarakat, dan makin tinggi nilainya, makin besar ketimpangannya.
Menurut Pramono, pemerintah harus terus berupaya agar hasil pembangunan Jakarta dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
“Persoalan utamanya adalah yang berkaitan dengan gini ratio,” ujarnya.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Pramono meyakini pendidikan dapat membantu mereka keluar dari kesulitan ekonomi keluarga, dan menjadi jalan membuka peluang yang lebih baik bagi generasi muda Jakarta.
Ia juga menyampaikan rencana beasiswa LPDP versi Jakarta, khusus bagi warga Jakarta yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Awalnya, sebanyak 75 siswa akan diberangkatkan.
“Kenapa harus ada LPDP? Supaya dari anak keluarga tidak mampu, punya dream, punya mimpi, untuk sekolah di Columbia, sekolah di Harvard, sekolah di Cambridge, dan sebagainya. Karena saya meyakini, mimpi inilah yang akan menuntun anak-anak itu untuk mencapai pendidikannya yang tertinggi,” kata Pramono. (**)
Halaman : 1 2