Kamis, 24 Sep 2026 - :
23 Sep 2026 - 16:38 | 69 Views | 0 Suka

Rela Pinjol demi Nonton Konser, Pakar Ungkap Alasan di Baliknya

8 mnt baca
Bubble effect: penonton konser hanyalah lingkaran kecil dari populasi Indonesia
<1% 70-80 ribu penonton dari 280 juta jiwa
Kapasitas stadion sebesar GBK atau JIS tak sampai 1% total penduduk RI
Tiket konser berharga jutaan rupiah kerap ludes hanya dalam hitungan menit, memunculkan anggapan daya beli masyarakat Indonesia masih kuat. Namun Guru Besar UNAIR menilai fenomena itu lebih mencerminkan fanatisme penggemar ketimbang kondisi ekonomi secara umum.
Catatan: dikutip dari laman resmi UNAIR, Rabu (23/9/2026).
Kapasitas stadion besar
70-80 rb
Penonton GBK atau JIS — tak sampai 1% dari 280 juta lebih penduduk Indonesia.
Bukan soal daya beli
“Lebih karena fanatisme tinggi dari para penggemar… seperti berhemat hingga memanfaatkan pinjol.”
Prof. Dr. Gancar Candra Premananto, UNAIR
Konser sebagai self-reward
“Pertunjukan yang belum tentu terjadi setahun sekali layak menjadi prioritas untuk membahagiakan diri.”
Prof. Dr. Gancar Candra Premananto, UNAIR
Pola konsumsi di balik tiket sold out
Bubble effect
Short-term orientation
Hardcore loyalist
Pembeli tiket konser hanya mewakili segmen kecil masyarakat dengan loyalitas sangat tinggi, bukan cerminan populasi secara keseluruhan.
Indikator ekonomi yang lebih tepat
Daya beli masyarakat tidak bisa disimpulkan dari kecepatan tiket terjual — perlu dilihat lewat inflasi dan tingkat pengangguran.
Ada sisi positifnya juga
Aktivitas hiburan tetap bisa mendongkrak destination awareness dan menggerakkan ekonomi daerah secara sporadis.
Meski konser mahal terus laris, masyarakat tetap diingatkan untuk menjaga literasi dan kesehatan keuangan jangka panjang, terutama di tengah maraknya tren hiburan berbiaya tinggi.
INILAHDATA.COM
Sumber: CNBC Indonesia, dikutip Rabu (23/9/2026).

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%