Kamis, 08 Okt 2026 - :
19 Sep 2026 - 04:38 | 64 Views | 0 Suka

Uji Nuklir Korut Ternyata Terus Picu Gempa Hingga Bertahun-tahun Setelahnya

9 mnt baca

Inilahdata.com – Sebuah temuan ilmiah baru mengungkap fenomena yang tak terduga di situs uji coba nuklir Punggye-ri milik Korea Utara: aktivitas seismik di kawasan tersebut ternyata terus meningkat secara berkepanjangan, jauh setelah uji coba nuklir terakhir dan terdahsyat dilakukan pada 2017 silam.

Mengutip laporan CNN, Jumat (18/9/2026), Korea Utara diketahui telah melakukan enam kali uji coba nuklir bawah tanah sepanjang 2006 hingga 2017 di kawasan Gunung Mantap, Provinsi Hamgyong Utara.

Melalui analisis data gelombang seismik dari rentang 2008 hingga 2025 yang dihimpun tim peneliti gabungan Korea Selatan dan China, dan dipublikasikan dalam jurnal Science, terungkap bahwa kawasan sekitar gunung tersebut telah diguncang tak kurang dari 1.399 gempa bumi, dengan jumlah maupun magnitudonya yang terus bertambah seiring waktu.

Sebagai catatan, uji coba pamungkas pada 2017 diperkirakan memiliki daya ledak sekitar 160 kiloton, memicu gempa bermagnitudo 6,3 yang diyakini turut menyebabkan runtuhnya sejumlah terowongan di lokasi tersebut.

Penulis utama studi ini, Kwang-Hee Kim dari Universitas Nasional Pusan, mengaku dibuat heran oleh pola aktivitas gempa yang justru terus melonjak drastis selama bertahun-tahun setelah ledakan terakhir tersebut berlangsung.

Sesungguhnya, gempa paling awal sudah mulai terdeteksi sejak 2013, tak lama usai uji coba ketiga digelar. Namun kala itu, frekuensinya masih jarang, hingga akhirnya meledak signifikan pasca-2017.

“Kami pada dasarnya sangat terkejut. Tren seismiknya begitu jelas dan linier,” ungkap Kim.

Sunyoung Park, asisten profesor ilmu geofisika di Universitas Chicago yang tidak terlibat dalam penelitian ini, turut menyebut temuan tersebut sangat mengejutkan. Pasalnya, efek kegempaan akibat ledakan bom nuklir pada umumnya bersifat jangka pendek.

“Saya pikir pelajaran yang lebih luas adalah bahwa gangguan yang berumur pendek dapat memiliki konsekuensi yang bertahan selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun,” tutur Park.

Meski jumlahnya terus bertambah, mayoritas gempa susulan ini sebenarnya tergolong lemah, kebanyakan hanya bermagnitudo 2 hingga 3 pada kedalaman dangkal. Secara historis, Semenanjung Korea dikenal dikelilingi kerak benua yang relatif stabil.

Bahkan, catatan sejarah China dan Korea sepanjang lebih dari 2.000 tahun hanya mencatat satu kejadian gempa dalam radius 100 kilometer dari lokasi tersebut.

Para peneliti menduga, kombinasi topografi Gunung Mantap yang besar, curam, dan asimetris dengan dahsyatnya ledakan bawah tanah telah membangunkan kembali patahan “intraplate” purba yang selama ini tertidur.

Kim turut mencatat bahwa jumlah gempa sesungguhnya bisa jadi lebih tinggi dari yang tercatat, mengingat timnya hanya menghitung kejadian yang berhasil dikonfirmasi oleh banyak stasiun pemantau, sementara data yang hanya terekam satu atau dua stasiun sengaja tidak diikutsertakan.

Park menjelaskan bahwa fenomena gempa buatan manusia yang bertahan lama seperti ini bukanlah hal yang mustahil terjadi.

Ia mencontohkan kasus serupa yang pernah merusak properti akibat ekstraksi gas di Belanda pada dekade 1960-an, serta lonjakan aktivitas seismik di Oklahoma, Amerika Serikat, akibat injeksi air limbah produksi minyak dan gas antara 2009 hingga 2015.

Menurutnya, ledakan nuklir di Korea Utara diduga telah meretakkan volume batuan dalam skala besar dan menciptakan jalur baru bagi pergerakan air tanah.

“Saat air menyusup ke rekahan tersebut, hal itu meningkatkan tekanan pori di dalam batuan,” jelas Park.

Tekanan tersebut, menurutnya, secara efektif mendorong patahan menjadi lebih mudah terlepas. Karena pergerakan air yang berlangsung lambat, respons seismiknya pun baru muncul bertahun-tahun kemudian.

Temuan ini dikhawatirkan akan mempersulit upaya pemantauan situs nuklir bawah tanah dalam jangka panjang, karena dapat mengaburkan batas antara peristiwa tektonik alami dengan kejadian yang sebenarnya berkaitan dengan ledakan buatan manusia.

Meski Kim menegaskan tidak ada bukti uji coba nuklir baru sejak 2017bahkan jurnalis internasional sempat diundang pada 2018 untuk menyaksikan langsung penghancuran situs tersebut, kondisi di lapangan tampaknya berkata lain.

Laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada 2022 dan Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat (DIA) pada 2025 sama-sama menyebutkan bahwa Korea Utara telah memulihkan fasilitas terowongan pengujian nuklirnya.

Yang tak kalah mengkhawatirkan, riset dari Korea Selatan turut menemukan kemungkinan adanya tanda-tanda paparan radiasi pada sejumlah pembelot asal Korea Utara yang pernah bermukim di dekat lokasi pengujian, meski penyebab pastinya hingga kini masih belum dapat dipastikan secara ilmiah. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%