Jumat, 09 Okt 2026 - :
9 Okt 2026 - 17:07 | 29 Views | 0 Suka

Akhirnya! Presiden Tetapkan Mantan Ajudan Jadi Wapres

7 mnt baca

Inilahdata.com – Jarang yang membayangkan bekas ajudan presiden pada akhirnya duduk di kursi Wakil Presiden RI. Itulah yang dialami Try Sutrisno, perwira militer yang meniti karier dari lapangan hingga masuk jajaran elite militer dan menjadi pendamping Presiden Soeharto.

Try memulai karier militernya pada 1960 di kesatuan Zeni, yang bertugas membangun kembali dan menghancurkan prasarana militer di medan perang.

Ia mula-mula ditempatkan di Palembang, lalu dipindahkan ke Jakarta, Bandung, dan beberapa kota di Jawa Timur. Peran sebagai perwira lapangan itu ia jalani sampai 1974.

Tahun itu, satu penugasan mengubah arah kariernya. Try ditunjuk menjadi ajudan Presiden Soeharto. Menurut buku Pak Harto: The Untold Stories (2011), Try mengaku tidak menyangka akan ditugaskan sebagai ajudan, sebab sudah lama berkarier di lapangan.

Penugasan itu justru menjadi titik penting. Selama empat tahun mendampingi Soeharto, namanya kian dikenal.

Usai masa ajudan, kariernya terus naik. Berdasarkan buku 5 Tahun Masa Bakti Bapak Try Sutrisno (1998), ia dipercaya menjadi Kepala Staf Kodam Udayana, lalu Panglima Kodam Sriwijaya pada 1979 dan Panglima Kodam Jakarta Raya pada 1982.

Ia kemudian menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat sebelum menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Pengamat politik Salim Said, dalam Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian (2013), menilai pengangkatan Try sebagai KSAD menunjukkan Soeharto sangat memercayainya, meski Try berlatar korps Zeni. Bagi Soeharto, langkah itu juga dianggap dukungan loyalitas dari Angkatan Darat.

Namun KSAD bukan puncaknya. Pada 1988, Soeharto mengangkat Try sebagai Panglima ABRI. Di posisi itu mulai beredar kabar bahwa Try akan menjadi wakil presiden, tetapi kabar tersebut tidak terwujud. Di tahun yang sama, Soeharto justru memilih Sudharmono.

Baru lima tahun berselang kepercayaan yang terbangun sejak masa ajudan berbuah jabatan lebih tinggi. Pada 1993, Try Sutrisno resmi menjadi Wakil Presiden ke-6 RI. Dalam prosesnya, ia mengungguli nama populer, Menteri Riset B.J. Habibie, yang dekat dengan kelompok Islam.

Salim Said menyebut pilihan Soeharto tidak lepas dari kedekatan lama itu. Soeharto sudah mengenal Try sejak masih menjadi ajudan. Selain kedekatan dan loyalitas, Try dinilai hidup sederhana, tidak punya beban masa lalu, dan berpenampilan menarik.

Sejarawan M.C. Ricklefs, dalam Sejarah Indonesia Modern (2004), menambahkan bahwa pengangkatan itu juga didorong lingkaran dekat Soeharto. Mereka melihat Try sebagai calon pengganti jika Soeharto wafat.

Usia Soeharto saat itu dinilai sudah sangat lanjut, sementara Try dianggap punya kapasitas dan legitimasi untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan nasional.

Dari ajudan, Try akhirnya menjadi pendamping presiden. Sebagai wakil presiden, ia banyak mengurusi pengawasan pembangunan nasional. Jabatan itu ia emban hingga 1998, sebelum digantikan B.J. Habibie. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%