Kamis, 21 Mei 2026 - :
3 Mei 2026 - 21:19 | 12 Views | 0 Suka

Inflasi AS Dinilai Negatif, The Fed Diminta Tetap Waspada Soal Suku Bunga

2 mnt baca

InilahData.com – Data terbaru inflasi Amerika Serikat memicu kekhawatiran baru bagi bank sentral. Presiden Federal Reserve Chicago, Austan Goolsbee, menilai angka tersebut sebagai sinyal yang kurang menggembirakan dan belum memberi ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter.

Dalam pernyataannya, Goolsbee menegaskan bahwa The Fed masih membutuhkan bukti kuat bahwa tekanan harga benar-benar kembali menuju target 2 persen sebelum mempertimbangkan penurunan suku bunga. Ia menyampaikan hal itu dalam wawancara media, yang kemudian dikutip dari sejumlah laporan internasional.

Data terbaru menunjukkan bahwa indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), indikator inflasi utama yang menjadi acuan The Fed, mencatat kenaikan tahunan sekitar 3,5 persen pada Maret. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.

Goolsbee juga menyoroti bahwa lonjakan harga kini mulai terlihat di sektor jasa, yang biasanya lebih stabil terhadap gejolak eksternal. Ia menilai komposisi inflasi saat ini belum menunjukkan perbaikan yang meyakinkan.

Selain itu, kenaikan harga energi serta dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan dengan Iran, dinilai turut memperbesar risiko inflasi ke depan. Faktor-faktor ini membuat prospek kebijakan moneter menjadi semakin kompleks.

Perbedaan Sikap di Internal The Fed

Di sisi lain, kondisi internal The Fed juga tengah diwarnai perbedaan pandangan yang cukup tajam. Dalam pertemuan terakhir, bank sentral memutuskan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5–3,75 persen, namun keputusan tersebut dihasilkan melalui voting yang terbelah signifikan.

Situasi ini mencerminkan meningkatnya perdebatan di antara para pembuat kebijakan terkait arah suku bunga ke depan, terutama di tengah ketidakpastian inflasi dan dinamika ekonomi global.

Goolsbee sendiri tetap menyambut positif dinamika kepemimpinan di tubuh The Fed, termasuk peran tokoh-tokoh baru yang dinilai dapat memberikan perspektif tambahan dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan.

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%